Rabu, 15 Juli 2026

dracula perang salib 1

 






















Perang Salib

Perang Salib merupakan perang dua peradaban besar yang 

sedang menggeliat pada abad pertengahan. Keduanya—

Islam dan Kristen— bertarung untuk saling mencari posisi, 

saling mengisi dan memengaruhi. Ada pedang yang beradu, 

ada buku yang terbakar, ada darah yang menggenang, ada 

yang menang dan ada yang kalah. Semuanya telah berpilin 

menjadi satu membentuk sejarah manusia.


Para Penunggang Kuda Poni             

yang Mengubah Dunia

SEJARAH abad X tak beranjak jauh dari Makkah, Palestina, 

Persia, Konstantinopel dan Baghdad. Berbagai suku bangsa 

datang dan pergi dari daerah-daerah ini . Mereka datang 

membawa kebudayaan mereka dan pergi membawa kebu-

dayaan baru. Sebagaimana halnya angin membawa terbang 

putik-putik bunga, mereka, para suku bangsa yang lebih me-

milih hidup nomaden, membawa kebudayaan baru ini  

menyebar pada jalan-jalan yang mereka lalui, dan menghirup 

kebudayaan baru yang belum mereka kenal.

Di antara suku bangsa yang mengembara itu terdapat 

orang-orang Turki Seljuk. Pada abad X mereka mulai me-

ninggalkan padang penggembalaan yang luas di tepian laut 

Aral dan sungai Jaxartes. Mereka mengikuti kerabat mereka, 

yaitu suku Avar, Kuman, Bulgar, Hun dan Magyar, berderap 

dengan kuda poni menaklukkan Persia. Tubuh-tubuh mereka 

yang liat tertempa alam penggembalaan memudahkan mereka 

mengalahkan sebuah imperium yang pernah berjaya pada 

abad-abad sebelum masehi. Dari Persia mereka terus bergerak 

ke arah Baghdad, dan kemudian merebut kota ini  pada 

tahun1055 M.


Sebagai suku bangsa nomaden yang tidak betah tinggal 

lama di suatu tempat, orang-orang Turki Seljuk terus bergerak. 

Keberanian, keuletan dan kelincahan mereka membuat suku-

suku yang lain memilih menghindar. Pada tahun 1071 M dalam 

pertempuran Manzikert mereka mengalahkan Kekaisaran 

Bizantium. Pada pertempuran ini orang-orang Turki Seljuk 

dipimpin oleh Alp Arselan. Dengan kekuatan 15.000 prajurit 

mereka bisa mengalahkan pasukan Bizantium yang berkekua-

tan 200.000 prajurit.

Rupanya tak ada yang bisa membendung gerak orang-

orang Turki Seljuk. Kota-kota seperti Palestina, Siria dan 

Yerussalem berhasil mereka rebut pada tahun 1075 M. Dalam 

waktu tidak begitu lama mereka juga berhasil menduduki Asia 

Kecil, dan di tempat ini kemudian mendirikan Kekaisaran 

Rum. Maka sejak saat ini orang-orang Turki Seljuk berbon-

dong-bondong ke Asia Kecil, memenuhi kota ini . Pen-

duduk lama tempat ini, yaitu orang-orang berbahasa Yunani 

tergeser, yang berarti menandai berakhirnya kebudayaan 

Bizantium-Kristen.

Para penunggang kuda poni ini terus melakukan gebrakan. 

saat  kekuasaan lebih mapan, mereka meninggalkan agama 

lama, yaitu penyembahan terhadap berhala. Langkah revolu-

sioner yang kemudian mereka ambil yaitu  menyatakan diri 

memeluk agama Islam dan mengumumkan sebagai musuh 

Kristen. Dengan masuknya orang-orang Turki Seljuk ini men-

jadi Muslim secara langsung telah membangkitkan kembali 

kekhalifahan Baghdad yang mulai redup.

sesudah  masuk Islam para penunggang kuda poni itu 

menjadi lebih beradab. Mereka yang pada awalnya tidak 

memperhatikan ilmu pengetahuan mulai sedikit demi sedikit 

memelajarinya. Cendekiawan dari berbagai daerah, khususnya 


dari Cordoba diundang untuk mengajarkan berbagai macam 

ilmu pengetahuan. Mereka juga mendatangkan berbagai 

macam buku. 

Sedikit demi sedikit perubahan ini  mulai tampak. 

Hal ini terlihat dari sistem pemerintahan yang mulai rapi 

dengan menganut sistem pemerintahan gaya Islam. Pun, 

pasukan mereka mulai ditata dengan baik. Penggabungan 

antara keberanian dan keuletan ini yang menjadikan orang-

orang Turki Seljuk semakin ditakuti. Sekarang mereka bukan 

bangsa nomoden lagi melainkan bangsa modern yang menjadi 

saingan Kekaisaran Bizantium. Ada dua matahari yang tengah 

bersinar dikawasan Asia dan Eropa. 

Tentu saja saat  dalam satu kawasan terdapat dua ma-

tahari maka peperangan yang hebat tidak dapat dihindari. 

Mereka akan berebut daerah yang lebih luas agar sinar mereka 

bisa menyinari segala penjuru. sebab , siapapun yang sinarnya 

paling luas maka akan mempunyai pundi-pundi kekayaan 

yang lebih besar.


Bara dan Sekam

KEKUATAN Turki Seljuk yang semakin besar membuat 

Kekaisaran Bizantium terpojok. Pada saat itu Bizantium 

diperintah oleh Kaisar Alexios Komnenos. Kaisar ini sebel-

umnya yaitu  jendral Konstantinopel yang berhasil merebut 

tahta pada 1081 M. Sebagai penguasa Bizantium dia memeras 

rakyatnya dan mewajibkan gereja menyetor emas untuk 

membangun angkatan perang yang kuat. Dengan angkatan 

perang yang dimilikinya, Alexios berhasil mengalahkan bangsa 

Normandia, Serb dan membantai bangsa Pecheneg dalam 

jumlah yang besar.

Prajurit yang kuat ternyata tidak membuat Alexios ten-

ang. Kekuatan Turki Seljuk yang mulai mengancam Bizantium 

membuat Alexios harus berpikir keras mempertahankan 

wilayahnya. sebab  merasa hanya mendapatkan bantuan 

dari Eropa maka Alexios meminta bantuan Paus Urbanus II 

di Konstantinopel. Gayung pun bersambut. Sang Paus yang 

merasa wilayah kekuasaan spiritualnya semakin terdesak 

menyambut dengan gembira permintaan Alexios I. 

Persekutuan Konstantinopel dan gereja ini ditindak lanjuti 

dengan mengadakan pertemuan akbar di Clermmont, Prancis 


selatan, pada tahun 1095. Dengan pidato yang berapi-api Paus 

Urbanus II membakar emosi umat Kristen:

“Hai orang-orang Frank, hai orang-orang di luar pegunungan 

ini, hai orang-orang yang dicintai Tuhan, yang jelas dari perilaku 

kalian, yang membedakan diri dari bangsa-bangsa lain di muka 

bumi ini, sebab  iman kalian, sebab  pengabdian kalian pada 

gereja suci; inilah pesan dan himbuan khusus untuk kalian….

Kabar buruk telah tiba dari Yerussalem dan Konstantinopel, 

bahwa sebuah bangsa asing yang terkutuk dan menjadi musuh 

Tuhan, yang tidak lurus hatinya, dan yang jiwanya tidak setia 

pada Tuhan, telah menyerbu tanah orang-orang Kristen dan 

membumihanguskan mereka dengan pedang dan api secara 

paksa.”

  

Provokasi ini  bertambah hebat sehingga bara dalam 

diri umat Kristen semakin berkobar-kobar:

“Tidak sedikit orang-orang Kristen yang mereka tawan untuk 

dijadikan budak, sementara sisanya dibunuh. Gereja-gereja, 

kalau tidak mereka hancurkan, mereka jadikan masjid. Altar-

altar diporak-porandakan. Orang-orang Kristen mereka sunat, 

dan darahnya mereka tuangkan pada altar atau tempat-tempat 

pembaptisan. Beberapa mereka bunuh secara keji, yakni dengan 

membelah perut dan mengeluarkan ususnya. Mereka tendang 

orang-orang Kristen, dan mereka dipaksa berjalan sampai keleti-

han, hingga terjerembab di atas tanah. Beberapa dipergunakan 

sebagai sasaran panah. Ada yang mereka betot lehernya, untuk 

dicoba apakah bisa mereka penggal dengan sekali tebas. Lebih 

mengerikan lagi perlakuan mereka terhadap perempuan.”

Begitu umat Kristen telah terbakar Paus Urbanus II me-

nyerukan untuk melawan orang-orang kafir ini :

“Kewajiban siapa lagi kalau bukan kalian, yang harus memba-

las dan merebut kembali daerah-daerah itu? Ingatlah, Tuhan 

telah memberi kalian banyak kelebihan dibandingkan dengan 

bangsa-bangsa lain: semangat juang, keberanian, keperkasaan 

dan ketidakgentaran menghadapi siapapun yang hendak mela-

wan kalian. Ingatlah pada keberanian nenek moyang kalian, 

pada kekaisaran Karel Agung dan Louis, anaknya serta raja-raja 

lainnya yang telah membasmi Kerajaan Turki dan menegakkan 

agama Kristen di tanah mereka. Kalian harus tergerak  oleh 

makam kudus Tuhan Yesus Sang Juru Selamat kita, yang kini 

ada di tangan orang-orang najis; kalian harus bangkit berjuang, 

sebab  kalian telah tahu, banyak tempat-tempat suci yang telah 

dikotori, diperlakukan secara tidak senonoh oleh mereka.”

Sebagai siraman minyak terakhir untuk membuat bara 

dendam di hati umat Kristen semakin membara, Paus Urba-

nus II berkata:

“Hai para ksatria pemberani, keturunan nenek moyang yang 

tak tertaklukkan, janganlah lebih lemah daripada mereka, namun  

ingatlah pada ketidakgentaran mereka. Jika kalian ragu-ragu 

sebab  cinta kalian kepada anak-anak, isteri, dan kerabat ka-

lian, ingatlah pada apa yang Tuhan katakan dalam Injil: “Ia 

yang     mengasihi ayah dan ibunya lebih daripada Aku, tidak 

pantas bagi-Ku.”….Jangan biarkan apa yang menjadi kepunyaan 

kalian menghambat kalian. Kalian tak perlu khawatir dengan 

apa yang menjadi kepunyaan kalian. Negeri kalian telah padat 

penduduknya, dan dari semua sisi tertutup laut dan pegunungan. 

Tak banyak kekayaan di sini, dan tanahnya jarang membuahkan 

hasil pangan yang cukup buat kalian. Itulah sebabnya sering ber-

tikai sendiri. Hentikan kesalingbencian dan pertengkaran kalian, 

hentikan peperangan antar sesama kalian. Bergegaslah menuju 

Makam Kudus, rebutlah kembali negeri itu dari orang-orang 

jahat, dan jadikan milik kalian. Negeri itu, seperti dikatakan di 

dalam Alkitab, berlimpah susu dan madu, Allah memberikannya 

kepada anak-anak Bani Israil. Yerussalem, negeri terbaik, lebih 

subur daripada lainnya, seolah-olah surga kedua. Inilah tempat 

Juru Selamat kita dilahirkan, diperintah dengan kehidupan-

Nya, dan dikuduskan dengan penderitaan-Nya. Bergegaslah, 

dan kalian akan memperoleh penebusan dosa, serta pahala di 

Kerajaan Surga.”

Dalam sejarah kepausan, pidato Paus Urbanus II meru-

pakan pidato yang paling berpengaruh. Pidato ini  telah 

membakar Eropa untuk maju melawan Kerajaan Turki, yang 

bagi mereka merupakan segerombolan orang-orang kafir yang 

tidak beradab. 

sesudah  pidato Paus Urbanus II usai, orang-orang yang 

berada di tempat itu meneriakkan slogan Deus Vult (Tuhan 

Memberkati) sambil mengacung-acungkan tangan. Maka 

demi negeri yang dikatakan al Kitab berlimpah susu dan madu, 

Allah memberikannya kepada anak-anak Bani Israil. Yerussalem, 

negeri terbaik, lebih subur daripada lainnya, seolah-olah surga 

kedua. Inilah tempat Juru Selamat kita dilahirkan, diperintah 

dengan kehidupan-Nya, dan dikuduskan dengan penderitaan-

Nya. Dan demi memperoleh penebusan dosa, serta pahala di 

Kerajaan Surga, mereka bergegas maju ke dalam medan per-

tempuran dengan membawa salib suci sebagai simbol.

Di antara pasukan Salib terdapat penjahat, pemerkosa 

dan pembunuh yang bergabung dalam Perang Suci ini  

dengan harapan akan mendapatkan penebusan dosa. Pun, para 

pedagang dari Pisa, Venesia dan Genoa yang ingin ikut berper-

ang demi alasan ekonomi/komersial; orang-orang romantis 

yang sebelumnya berputus asa dan selalu gelisah serta suka 

berpetualang. Sementara itu, orang-orang Prancis, Lorraine, 


Italia dan Sisilia bergabung demi membebaskan diri mereka 

dari kemiskinan yang merantai mereka. Semuanya bersatu 

untuk menggempur musuh yang sama: orang-orang Islam.

Tentang Perang Salib ini John L. Esposito, guru besar 

Universitas George Town, Amerika, memberikan analisa 

yang tajam: 

“Sebagian besar masyarakat Barat mengakui adanya kenyataan 

tertentu yang berhubungan dengan Perang Salib, namun  banyak di 

antara mereka yang tidak mengetahui bahwa  Perang Salib yang 

memicu  korban yang amat besar ini yaitu  atas perintah 

Paus. Bagi umat Islam, kenangan atas Perang Salib merupakan 

satu contoh nyata dari militerisasi Kristen ekstrim, sebuah ke-

nangan yang membawa pesan bagi serangan dan imperialisme 

Kristen barat.”

Pada 25 Agustus  1095, dimulailah rangkaian Perang 

Salib. Tujuan jangka pendek orang-orang Kristen sudah jelas, 

yaitu menguasai Bait al Maqdis. Sedangkan tujuan jangka 

panjangnya menguasai negeri-negeri Islam yang subur dan 

kaya sumber daya alam.

Pasukan Salib bergerak dengan jumlah 150.000 prajurit, 

sebagian besar merupakan bangsa Prancis dan Norman, 

berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. 

Pimpinan mereka yaitu  Godfrey, Bohemond, dan Raymond. 

Mereka terus merangsek hingga mendesak pasukan Islam dan 

akhirnya memperoleh kemenangan besar. 


Jatuhnya Yerussalem

UMAT Islam tidak tinggal diam. Kekalahan demi kekelaman 

yang mereka alami kembali mengobarkan semangat jihad yang 

sempat padam. Mereka yang sebelumnya tercerai-berai sebab  

perebutan kekuasaan kembali menghimpun diri dalam satu 

kekuatan yang besar. 

Kali ini pasukan Islam dipimpin oleh Imaduddin Zanki, 

penguasa Moshul dan Irak, sebab  keberaniannya melawan 

pasukan Salib dia digelari “Palu Pemukul.” Dengan semangat 

yang membara mereka bergerak ke arah Aleppo. Luasnya dan 

panasnya padang pasir tidak mereka hiraukan lagi. 

Peperangan pertama Zanki dan pasukannya dengan pa-

sukan Salib terjadi di Edessa. Wilayahnya ini sebab  letaknya 

yang berdekatan dengan Baghdad serta posisinya yang berada 

di jalur Mesopotamia dan Mediterania, merupakan benteng 

terluar Kerajaan Latin di Suriah selama setengah abad. Wilayah 

ini akhirnya bisa direbut oleh Zanki dari Joscelin II pada tahun 

1144 M. Di wilayah ini pasukan Salib memang mempunyai 

kekuatan yang besar, tapi mereka tidak didukung oleh sistem 

pertahanan yang kuat.

sesudah  kematian Zanki tugasnya diambil alih oleh 

anaknya, Numuddin Zanki. Numuddin berhasil merebut 

kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 

M seluruh Edessa dapat direbut kembali. 

Jatuhnya Edessa membuat orang-orang Kristen panik. 

Mereka sadar jika pasukan Islam telah maju dan menemukan 

kepercayaan dirinya maka akan sulit untuk dibendung. Oleh 

sebab  itu, pasukan Salib segera menyiapkan diri. Kali ini 

yang memprovokasi pasukan Salib yaitu  Paus Eugenius III. 

Sang Paus menyatakan bahwa Perang Salib II harus segera 

dilakukan demi menyelamatkan Kota Suci dari gempuran 

orang-orang kafir. Seruan Paus mendapatkan sambutan yang 

positif oleh raja Perancis, Louis VII, dan raja Jerman, Con-

drad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut 

wilayah Kristen di Siria. Akan namun  gerak mereka tertahan 

oleh pasukan Numuddin Zanki. Sampai peperangan usai 

pasukan Salib tak pernah bisa menginjakkan kaki mereka di 

Damaskus. Sementara itu, pimpinan mereka, Louis VII dan 

Condrad II melarikan diri pulang ke negerinya. 

Keberhasilan pasukan Numuddin memukul pasukan Salib 

menambah semangat umat Islam. Mereka semakin giat berlatih 

untuk mempersiapkan diri merebut kembali Yerussalem. Pada 

saat persiapan ini  hampir mencapai puncaknya, pada 

tahun 1174 M Numuddin wafat. sesudah  wafatnya Numuddin 

pimpinan perang dipegang oleh Shalahuddin al Ayyubi— ia 

merupakan pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M. 

Shalahuddin atau juga dikenal sebagai Saladin meru-

pakan panglima perang yang pemberani. Sejak pertama kali 

memegang jabatan sebagai panglima perang dia langsung 

membulatkan niatnya untuk merebut kembali Yerussalem. 

Dia mengerahkan pasukannya untuk mengusir pasukan Salib 

dari Yerussalem. Pada 1 Juli 1187 M, Saladin berhasil merebut 

Tiberias sesudah  berperang selama enam hari. Keberhasilan ini 

kemudian dilanjutkan dengan perang besar-besaran melawan 

pasukan Salib. Perang ini kemudian dikenal dengan nama 

Perang Hattin, yang berlangsung 3-4 Juli. Saladin memulai 

peperangan pada hari Jum’at—hari yang merupakan favorit-

nya. Kekuatan Islam berhasil menaklukkan tentara Salib yang 

berjumlah 20.000 orang.

Selepas kemenangan dalam Perang Hattin, Saladin terus 

bergerak ke Yerussalem. sesudah  seminggu mengepung Yerus-

salem, pada 2 Oktober 1187 M, Saladin berhasil merebut kota 

ini . Di Masjid Aqsha, kumandang adzan menggantikan 

lonceng gereja. sesudah  selama 88 tahun dalam genggaman 

pasukan Salib akhirnya Yerussalem bisa direbut kembali 

oleh umat Islam. (Tentang Saladin baca box: Saladin: Sang 

Penakluk Yerussalem). 

Saladin: 

Sang Penakluk Yerussalem

  Saladin dilahirkan di Kurdish, Tikrit. Oleh ayahnya 

dia kemudian dikirim ke Damsyik untuk belajar ilmu 

pengetahuan. Selama 10 tahun Saladin tinggal di Damsyik 

di kawasan istana milik Nur ad Din. Ayah Saladin, Najm 

ad-Din Ayyub, ialah Gubernur Baalbek.

  Pendidikan militer didapatkan Saladin dari saudara 

ayahnya, Shirkuh, yang pada waktu itu merupakan pan-

glima perang Nur al Din, dan sering mewakili Nur al Din 

dalam kampanye melawan Kerajaan Fatimiyyah di Mesir. 

Tugas untuk melawan Kerajaan Fatimiyyah kemudian dis-


erahkan pada Saladin. Berkat keberhasilannya dia diangkat 

menjadi panglima perang pada tahun 1169 M. 

  Sewaktu menjadi panglima perang di Mesir, wilayah ini 

merupakan salah satu benteng umat Islam dari gempuran 

pasukan Salib. Awalnya Saladin diragukan bisa bertahan 

dari gempuran Kerajaan Latin Baitulmuqaddis pimpinan 

Almaric I. Akan namun , sesudah  dia berhasil menunjuk-

kan kepiawaiannya di medan perang sedikit demi sedikit           

orang-orang yang meragukan Saladin mulai luruh. 

  Begitu Numuddin wafat, Saladin langsung mengambil 

alih posisi panglima perang. Langkah pertama yang diambil 

Saladin untuk mengalahkan pasukan Salib yaitu  dengan 

mengorganisasikan kekuatan. Ia mengumpulkan kekuatan-

kekuatan di Siria yang awalnya terpecah belah. Sambil 

menjalankan tugas ini, Saladin beberapa kali melakukan 

serangan-serangan terhadap pasukan Salib. Pada 25 Nopem-

ber 1177 M, Saladin bertempur dengan pasukan Salib dalam 

Perang Montgisard. Pada saat itu pasukan Salib dipimpin 

oleh Raynald dan Ksatria Templar. Pada peperangan ini 

Saladin mengalami kekalahan.

  Selepas kekalahan dalam Perang Montgisard, Saladin 

tidak mundur. Justru dia bergerak maju kembali sehingga 

bisa mengusir pasukan Salib. Selama pada masa perang 

ketegangan diantara kedua kubu semakin memanas saat  

Raynald mengganggu para pedagang dan orang-orang yang 

berangkat haji di Laut Merah. Raynald juga mengancam 

akan menyerang Makkah dan Madinah. Terhadap tinda-

kan ini  Saladin menyerang kubu Raynald di Kerak 

pada tahun 1183 M dan 1184 M. Sebagai balasan terhadap 

serangan Saladin, pada tahun 1185 M Raynald membunuh 

kabilah yang akan menunaikan ibadah haji.

  Tindakan ini  tentu membuat umat Islam marah. 

Sebagai pimpinan pasukan Islam, Saladin segera melancar-

kan serangan besar-besaran. Pada 4 Juli 1187 M, pecahlah 

Perang Hattin. Dalam peperangan ini pasukan Saladin 

memperoleh kemenangan besar dan berhasil menangkap 

Raynald. Saladin kemudian memancung kepala Raynald di 

depan pasukannya.

  Kemenangan dalam Perang Hattin menambah semangat 

umat Islam. Bersama pasukannya, Saladin terus begerak dan 

merebut kota-kota yang dikuasai pasukan Salib. Puncaknya, 

pada 2 Oktober 1187 M, Saladin berhasil merebut kembali 

Yerussalem. Berbeda saat  pasukan Salib merebut kota ini 

dengan membantai seluruh umat Islam, Saladin membiar-

kan umat Kristen aman di dalamnya. Mereka diberikan 

jaminan untuk menjalankan ibadah. Berita bahwa Saladin 

tidak melukai satupun umat Kristen membuat Paus di 

Roma mati mendadak sebab  terkejut ada manusia semulia 

itu.

  Keberhasilan Saladin ini terus dikenang sepanjang masa. 

Sikap ksatrianya membuat dirinya dihormati oleh lawan 

maupun kawannya. Orang-orang Eropa yang biasanya 

menganggap sebelah mata pahlawan-pahlawan Islam begitu 

menghormati Saladin. Dua sastrawan besar Eropa, Dante 

dalam Limbo dan Sir Walter Scott dan The Talisman, 

menjadikan Saladin sebagai tokohnya. Sementara itu, Raja 

Richard memuji Saladin sebagai seorang putera agung dan 

merupakan pemimpin paling hebat dalam dunia Islam. 

  Akhirnya, Saladian, Sang Penakluk Yerussalem, wafat 

pada 4 Maret 1993 M di Damsyik, tidak lama sesudah  kema-

tian Raja Richard. saat  umat Islam membuka peti milik 

Saladin guna membiayai biaya penguburan, mereka hanya 

mendapatkan sekeping uang emas dan empat uang perak. 

Selama hidupnya, Saladin memang telah memberikan har-

tanya untuk fakir miskin.

  Kini, Saladin terbaring dengan tenang di pusaranya yang 

berada di dekat Masjid Umayyah, Suriah.


Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin sangat 

memukul perasaan pasukan Salib. Mereka pun menyusun ren-

cana balasan. Kali ini salib dipikul oleh tiga orang; Frederick 

Barbarossa, raja Jerman, Richard the Lion Hart, raja Inggris, 

dan Philip Augustus, raja Perancis. Pasukan Salib kembali 

bergerak menuju Yerussalem pada tahun 1189 M. Meski ber-

hasil merebut Akka, mereka tidak pernah berhasil memasuki 

Yerussalem sebab  tak mampu melawan pasukan Saladin.

Pada periode selanjutnya Saladin membuat perjanjian per-

damain dengan pasukan Salib. Bentuk perdamain ini memang 

bisa dikatakan unik. Sebagai penganut paham romantik, Rich-

ard, raja Inggris saat itu mengajukan saudara perempuannya 

untuk menikah dengan saudara laki-laki Saladin, al Malik al 

Adil. Sebagai mas kawin dari pernikahan ini  yaitu  kota 

Yerussalem. Lewat cara ini maka perselihan antara umat Kris-

ten dengan umat Muslim diakhiri. Pada 2 Nopember 1192 M, 

perjanjian perdamainan ini  disahkan, dengan ketentuan 

daerah pantai milik bangsa Latin sedangkan daerah pedalaman 

milik umat Islam, dan peziarah yang datang ke Yerussalem 

tidak boleh diganggu. 


Babakan Selanjutnya 

Perang Salib

PERJANJIAN damai yang digagas oleh Saladin dan Richard 

hanya bertahan kurang lebih 30 tahun. Pada tahun 1219 M 

Perang Salib pecah lagi. Pasukan Salib yang dipimpin oleh 

raja Jerman, Frederick II berhasil menduduki Dimyat. sebab  

terdesak, raja Mesir dari Dinasti Ayyubiyah waktu itu, al 

Malik al Kamil, membuat penjanjian dengan Frederick II. 

Isi perjanjiannya antara lain bahwa Frederick II bersedia me-

lepaskan Dimyat, sementara al Malik al Kamil melepaskan 

Yerussalem; Frederick II menjamin keamanan kaum Musli-

min di sana, dan Frederick II tidak mengirim bantuan kepada 

pasukan Kristen di Siria. 

Selama 28 tahun Yerussalem berada dalam genggaman 

pasukan Salib. Selama masa ini  pasukan Islam berusaha 

merebut Yerussalem. Dan, baru berhasil pada tahun 1247 M 

M, di masa pemerintahan al Malik al Shalih, penguasa Mesir 

waktu itu. saat  Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik yang 

menggantikan posisi Dinasti Ayyubiyah, pimpinan perang 

dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa ini Akka 

dapat direbut kembali pada tahun 1291 M. 


sesudah  periode ketiga ini yang terjadi kemudian yaitu  

pertempuran kecil-kecilan. Pertempuran besar kembali 

pecah kurang lebih dua abad kemudian saat  pasukan 

Turki Ottoman berhasil merebut Konstantinopel pada tahun 

1453 M.


Pengaruh Perang Salib

SECARA umum Perang Salib membawa kemajuan bagi ma-

syarakat Eropa. Pada masa itu masyarakat Eropa yang berada 

dalam zaman kegelapan mendapatkan cahaya benderang dari 

peradaban Islam. Orang Kristen yang terkesima dengan per-

adaban baru ini  segera memelajari segala macam ilmu 

pengetahuan. Proses ini tidak hanya menghasilkan cendeki-

awan Kristen dari kalangan laki-laki tapi juga perempuan. Di 

antara cendikiawan perempuan yang menojol pada abad ke-12 

yang merupakan didikan peradaban Islam antara lain Heloise, 

Hildegard Von Bingen dan Elanor dari Aquitaine.

Terhadap proses penyerapan Kristen terhadap peradaban 

Islam, Will Durant, seorang sejarawan kenamaan memberikan 

ulasan mengenai infiltrasi ini  di sepanjang Perang Salib 

sebagai berikut:

“Infiltrasi dunia Kristen terhadap Islam hanya terbatas pada se-

bagian budaya agama dan perang, namun  dunia Islam melakukan 

berbagai infiltrasi dalam dunia kristen. Sebaliknya, dari Islam, 

Eropa mengadopsi makanan, minuman, obat-obatan, kedok-

teran, persenjataan, selera dan kecenderungan seni, metode in-

dustri dan perdagangan, undang-undang, dan metode kelautan.”


Namun sayang, walaupun mereka telah berhutang budi 

terhadap peradaban Islam, rasa permusuhan mereka terhadap 

umat Muslim tak pernah surut. Seorang sejarawan, Twin B, 

mengatakan, “Orang-orang Kristen mengambil manfaat dari 

kemajuan peradaban dan kesenian umat Islam namun  permu-

suhan bersejarah fanatisme Kristen dengan Islam tidak pernah 

berkurang.”

Rasa permusuhan umat Kristen terhadap umat Islam 

semakin memuncak saat  Konstantinopel jatuh ke dalam 

kekuasaan Kerajaan Turki Ottoman. Mereka menggambarkan 

citra Islam sedemikan buruknya. William Montgomery Watt 

menuliskan bahwa wajah Islam telah diubah oleh para pendeta 

Kristen. Dalam gambaran umat Kristen, Islam merupakan 

agama yang ditegakkan dengan pedang dan kekerasan. 

Perusakan gambaran yang dilakukan umat Kristen 

terhadap umat Islam lebih banyak disebabkan inferioritas 

mereka pada abad X-XV. Pada rentang abad ini  perada-

ban Kristen jauh tertinggal dari peradaban Islam. Salah satu 

mercusuar peradaban Islam saat itu yaitu  Cordoba, yang 

sinar ilmu pengetahuannya menyinari seluruh penjuru dunia. 

Pada saat itu di perpustakaan-perpustakaan Islam di Cordoba 

para intelektual berkumpul untuk melakukan penerjemahan 

berantai; orang Yahudi menerjemahkan dari bahasa Arab ke 

bahasa Spanyol, orang Kristen menerjemahkan dari bahasa 

Spanyol ke bahasa Latin. Lewat cara inilah ilmu pengetahuan 

dari segala penjuru bisa diserap. Namun rupa-rupanya Barat 

tidak mau menerima kenyataan ini. Dengan merusak citra 

Islam, Barat berusaha mengaburkan kejayaan ini , dan 

kemudian membelokkan arah sejarah.

Sampai kini bekas luka Perang Salib masih membekas 

di hati orang-orang Barat. Sebagaimana biasa mereka beru-

saha mengubah kekalahan dalam perang ini  dengan 

menciptakan pahlawan-pahlawan baru. Tak mengherankan 

Islam digambarkan sebagai agama kaum teroris sedangkan 

mereka—Barat—yaitu  pahlawan-pahlawan yang menumpas 

para teroris yang meresahkan masyarakat. 

Bagi umat Islam sendiri, Perang Salib menyebabkan per-

asaan inferior. Umat Islam yang mempunyai pahlawan seperti 

Saladin dan Mehmed II menjadi kehilangan kepercayaan diri 

begitu kekuasaan Islam mengalami kemunduran pada abad 

pertengahan. Umat Islam menjadi bangsa yang tertutup dan 

mengisolasi diri dari kehidupan masyarakat secara luas. Ilmu 

pengetahuan dan teknologi yang pada awalnya menjadi ujung 

tombak kemajuan umat Islam, pelan-pelan ditinggalkan. 

Para pemimpin agamanya kemudian hanya berkutat pada 

persoalan-persoalan formal keagamaan dan semakin memung-

gungi ilmu pengetahuan. Maka lengkap sudah kemunduran 

umat Islam, apalagi sesudah  Cordoba jatuh ketangan Barat. 

Tentang kondisi ini, Peter Mansfield berpendapat, “Diserang 

dari berbagai arah, dunia Islam berpaling ke dirinya sendiri. 

Ia menjadi sangat sensitif dan defensif…Sikap yang tumbuh 

menjadi semakin buruk seiring dengan perkembangan dunia, 

suatu proses dimana dunia Islam merasa dikucilkan, terus 

berlanjut.”

Perasaan inferior ini  masih bertahan hingga kini. 

Sikap ini menyebabkan umat Islam semakin surut ke belakang 

sehingga tangan-tangan Barat dengan mudah mencengkeram 

pola pikir masyarakat Muslim. Saat ini, pola pikir dan budaya 

Barat dengan mudah dan leluasa memasuki relung-relung 

kehidupan umat Islam. Mereka menebarkan racun-racun dan 

bom waktu agar umat Islam semakin melupakan jati dirinya 

dan sejarahnya sendiri.  


jika  tidak mau terus-menerus dijajah oleh Barat, umat 

Islam harus bersatu. Perlawanan dalam segala aspek kehidu-

pan—ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya—harus 

dilakukan. Dengan cara inilah maka masyarakat Muslim akan 

bisa keluar dari penjajahan Barat. Sehingga jati diri sebagai 

umat yang pernah menjadi mercusuar dunia akan didapatkan 

lagi.


Dracula si Penyula

Selama ini kisah hidup Dracula diliputi oleh mitos. Sos-

oknya seolah berada antara ada dan tiada. Kekejamannya 

dianggap hanya imajinasi Bram Stoker dalam novelnya, 

Dracula. Inilah yang membuat dirinya hanya dianggap se-

bagai legenda cerita dari mulut ke mulut. Padahal, sejarah 

hidup Dracula merupakan sejarah kegelapan abad perten-

gahan. Kisah hidupnya yaitu  kisah banjir darah yang 

belum ada tandingannya hingga kini. Dan, kekajamannya 

tak bisa dipisahkan dengan Perang Salib serta jatuhnya 

Konstantinopel ke tangan Kerajaan Turki Ottoman.


 Si Negru 

SEROMBONGAN pengembara berkuda dengan ternak-

ternak mereka akhirnya sampai di lembah Sungai Arges. 

Sungai ini  mengalir sepanjang tahun seperti Sungai Nil, 

menebarkan kesuburan di daerah yang dilaluinya. Airnya 

seperti mengalir dari air mata seorang ibu, bening dan berkilau 

memantulkan cahaya matahari. Lembah-lembah di sekitar 

sungai menghampar menghijau laiknya permadani yang baru 

disisir. Si pimpinan pengembara turun dari kudanya. Dia 

naik ke bukit yang ditumbuhi pepohonan sebesar rengkuhan 

tangan orang dewasa. Kaki-kakinya yang kokoh menjejak 

tanah menyibak dedaunan kering yang terhampar tak ber-

daya. Langkahnya begitu mantap seperti langkah seseorang 

yang menuju altar suci. Sesampai di tempat yang agak tinggi 

dia berhenti. Matanya menatap berkeliling. Ada rasa puas 

tersungging di senyumnya. 

Si pemimpin pengembara itu bernama Radu Negru. Dia 

sering dipanggil Rudolf Yang Hitam. Negru dan rombongan-

nya turun dari gunung—tempat perlidungan mereka—begitu 

kekuatan Mongolia mulai surut dan cerai-berai. Sebelum 


melemah, orang-orang Mongolia memang membuat suku-

suku yang lain gentar. Tak sedikit yang melarikan diri kepe-

gunungan untuk menyelamatkan diri. Memang penghancur 

kota Baghdad itu membuat miris. Nah, pada saat kekuasaan 

Mongol mulai melemah, suku-suku yang melarikan diri mu-

lai turun gunung. Mereka membelah hutan dan menyusuri 

lembah untuk mencari daerah yang cocok untuk bermukim. 

Dan, sebagai salah satu kelompok pelarian, Radu Negru men-

emukan Wallachia pada tahun 1290 M. 

Sebelumnya Wallachia dikenal dengan nama Vlachs, 

sebuah daerah yang terletak di antara Sungai Danube dan Pe-

gunungan Carpathia. Sungai Danube membelah wilayah ini, 

memisahkannya dengan Bulgaria di sebelah selatan. Sementara 

itu, Pegunungan Carpathia memisahkannya dengan Transyl-

vania di utara. Pada awalnya penduduk Wallachia terdiri dari 

empat suku. Di daerah selatan didiami suku Saxon yang ber-

baur dengan suku Wallach. Di sebelah barat bermukim suku 

Magyar, dan suku Szekely di timur serta utara; suku Szekely 

mengaku sebagai keturan suku Atilla dan bangsa Hun.

Wallachia sebetulnya merupakan kota tua. Awalnya 

daerah ini merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Kuno. 

Wilayahnya yang berada di tengah-tengah antara Eropa dan 

Asia Kecil menyebabkan banyak kerajaan-kerajaan besar 

ingin menguasainya. Dari tempat ini pasukan perang bisa 

menyebar ke arah utara menuju negeri-negeri Balkan dan Jer-

man, ke selatan menuju Yunani atau Turki. sesudah  beberapa 

waktu berada dalam genggaman Kekaisaran Romawi Kuno, 

pada tahun 332 M Goth menyerang bagian selatan dan utara 

Sungai Danube, dan berhasil menguasai Wallachia. Kekuasaan 

Goth atas Wallachia berakhir saat  Hun datang dan merebut 

daerah ini.


Mungkin sudah menjadi takdir sejarah kalau Wallachia 

harus berpindah-pindah penguasa. Pada kurun selanjutnya 

daerah ini menjadi rebutan antara Bizantium dan orang-orang 

Turki. Bizantium yang memantapkan kekuasaannya di Kon-

stantinopel bersaing dengan pengembara Turki yang semakin 

agresif menjelajahi dunia. Namun, saat  bangsa Mongol 

datang, keduanya mundur dan Wallachia ditinggalkan oleh 

penduduknya. Orang-orang Mongol yang terkenal dengan 

kekejamannya membuat penduduk Wallachia lebih memilih 

melarikan diri ke gunung daripada menjadi daging cincang dan 

korban penjarahan. Untuk beberapa waktu kekuatan Mongol 

memang tak ada yang bisa menandingi. Kekuatan mereka 

yang bisa menerjang bak tsunami membuat kerajaan lain 

menyingkir. Waktu itu seolah-olah orang-orang  Mongollah 

yang akan menguasa dunia. Tapi hukum besi sejarah berkata 

lain. Kekuatan yang tidak takut dengan pedang dan tombak 

ini akhirnya harus menyerah pada tikus. Ribuan tikus yang 

membawa wabah pes telah menebarkan maut di Eropa dan 

sebagian Asia. Bangsa Mongol yang hampir menguasai seluruh 

Eropa lari lintang pukang sebab  tak sanggup menghadapi mu-

suh yang tak kelihatan ini. Mereka tak peduli dengan jarahan 

lagi. Mereka hanya peduli dengan nyawa yang hanya sebiji, 

meninggalkan Eropa untuk menyelamatkan diri. 

Sejak kepergian orang-orang Mongol banyak sekali dae-

rah-daerah yang tak bertuan. Kota-kota yang porak- poranda 

sebab  penghancuran orang-orang Mongol menjadi semakin 

merana. Rumput dan lumut menjarah seisi kota. Kalau malam 

hari kota-kota ini  akan mirip kota hantu dengan suara 

serigala yang mengaung dari segala penjuru. 

Lambat laun saat  para pengungsi dari gunung mulai 

turun, geliat kehidupan mulai terasa. Mereka membersihkan 

kota-kota tak berpenghuni, membabat rumput dan memulai 


kehidupan. Salah satu daerah yang mendapat berkah kehidu-

pan itu yaitu  Wallachia. Radu Negrulah yang menjadikan 

Wallachia memperoleh kehidupannya kembali. Dan kelak, 

sejarah tentang kekejaman akan tergoreskan di sini. 

Gambar 1: Tanda X merupakan wilayah Wallachia

 

Beberbeda dengan ciri khas kekuasaan feodal dimana 

seorang anak lelaki tertua mewarisi tahta ayahnya, di Walla-

chia hal itu tidak berlaku. Di wilayah ini peranan tuan tanah 

(bayor) sangat besar. Sebagai pemilik tanah yang luas dan 

petani-petani miskin, para bayor bisa menentukan siapa yang 

berhak menjadi penguasa di Wallachia. Bila raja yang terpilih 

ternyata tidak memuaskan maka mereka bisa melakukan 

penyingkiran—entah dibuang atau dibunuh. Keadaan seperti 

inilah yang menyebabkan Wallachia menjadi tidak stabil, 

sering terjadi perselisihan dan pembantaian. 

Dalam sejarah Wallachia paska Radu Negru, pertentangan 

untuk memperebutkan kekuasaan sering terjadi antara Mir-

cea Tua—kakek Dracula—dengan keluarga Dan II (Denesti). 


Mereka merupakan dua keluarga besar di Wallachia yang sal-

ing berebut pengaruh untuk mengendalikan para bangsawan, 

tuan tanah dan para petani. Tentang kondisi Wallachia yang 

tidak stabil, Badu Bogdan, seorang penulis kenamaan Rumania 

mengatakan, “Di dalam kerajaan terdapat keluarga-keluarga 

besar. Mereka saling berebut kekuasaan. Akibatnya, kerajaan 

menjadi tidak stabil.”

Tak jarang pula perebutan kekuasaan itu semakin mema-

nas saat  campur tangan dari luar masuk. Hal ini semakin 

terasa saat  Perang Salib semakin meluas. Letak Wallachia 

yang berada ditengah-tengah dua kekuatan besar, Kerajaan 

Honggaria (Kristen) dan Turki Ottoman (Islam), menye-

babkan wilayah ini selalu panas oleh aroma suksesi politik. 

Kedua kekuatan besar itu saling berebut pengaruh di daerah 

ini, berusaha agar penguasa Wallachia yaitu  orang yang bisa 

mereka kendalikan. Inilah yang membuat Wallachia mempu-

nyai arti penting selama Perang Salib berlangsung.


SEBELUM melangkah lebih jauh menjejak riwayat Dracula 

maka ada baiknya dikupas terlebih dahulu tentang Vlad II, 

ayah Dracula. Dia bernama asli Basarab. Kalau diruntut garis 

keturunannya, Basarab merupakan anak tidak sah dari Mircea. 

Oleh sebab  itu, saat  Mircea meninggal dunia, tahta kerajaan 

tidak turun pada Basarab tapi pada saudaranya, Mihail. Hal 

ini tidak membuat Basarab kecewa, dia justru merasa senang. 

Selepas ayahnya meninggal, Basarab bergabung dengan 

Kerajaan Honggaria. Di tempat inilah dia mendapatkan be-

ragam ilmu pengetahuan dari guru-guru Eropa terbaik yang 

hidup saat itu. Segala ilmu dia pelajari. Tak mengherankan 

kalau dia lebih menonjol di antara yang lain. Kemajuan-

kemajuan yang diperoleh Basarab ini  menarik minat raja 

Honggaria, Sigismund. saat  sang raja membentuk pasukan 

elit sebagai garda depan Perang Salib, Basarab resmi direkrut. 

Pada saat Mihail meninggal pada tahun 1421 M, Basarab 

sebetulnya mempunyai kesempatan untuk mengambil alih 

kekuasaan Wallachia. Tapi dia merasa tak mampu bersaing 

dengan saudara-saudara tirinya. Sebagai jalan keluar dia me-


minta bantuan pada Sigismund agar mau mendukungnya. Na-

mun, Sigismund menolak permintaan ini  dengan alasan 

Basarab masih muda dan belum berpengalaman. Sigismund 

pun akhirnya mendukung Danejsti, saudara tiri Basarab.

Rupanya Sigismund mempunyai rencana lain. Dia men-

gangkat Basarab sebagai duta besar di Konstantinopel, ibukota 

Bizantium. Tugas utamanya yaitu  sebagai penghubung antara 

ajaran Katolik Roma di barat dengan ajaran Katolik Ortho-

doks di timur. Memang sudah sejak lama antara dua ajaran ini 

tidak bisa disatukan. Secara hirarki gereja keadaan ini tentu 

saja melemahkan posisi Paus sebab  dia tidak bisa mengambil 

kendali secara penuh terhadap umat Katolik. Oleh sebab nya 

guna memperoleh kekuasaan penuh terhadap umat Katolik, 

Paus Pius II di Roma berusaha menyatukan dua kelompok 

ini . Guna mewujudkan rencananya Paus memakai ar-

gumentasi bahwa umat Katolik sedang menghadapi musuh 

bersama—umat Islam— maka tidak sepatutnya kalau sesama 

agama Kristus terpecah-belah. Paus kemudian meminta pada 

Sigismund agar mengirim duta besar ke Konstantinopel. Be-

gitu mendapat perintah itu, Sigismund mengangkat Basarab 

sebagai duta besar, dan atas pilihan raja Honggaria ini  

Paus Pius II sangat senang.

Kaisar Bizantium, John VIII Paleologus, menerima 

kedatangan Basarab dengan baik. Dia menganggap Basarab 

selain sebagai lelaki yang cerdas juga mempunyai kesopanan 

yang tinggi. Terhadap tugas yang diemban Basarab, Kaisar 

mengatakan bahwa rencana untuk menyatukan dua keyaki-

nan ini  sangat bagus tapi waktunya belum tepat.  Dia 

mengatakan bahwa fokus Kekaisaran Bizantium saat ini yaitu  

menghadapi serangan Mongol dan orang-orang Turki. Den-

gan kondisi ini  Kaisar mengatakan mungkin pada lain 


waktu pembicaraan tentang penyatuan itu bisa dibicarakan 

lagi secara lebih mendalam.

Jawaban ini  kemudian dibawa Basarab kembali ke 

Honggaria. Sebelum ke Honggaria dia singgah ke Moldavian. 

Sudah sejak lama Basarab mempunyai hubungan yang baik 

dengan Moldavian. Sebagaimana tradisi para bangsawan pada 

abad pertengahan maka agar hubungan ini  bertambah 

kuat maka Basarab dinikahkan dengan saudara Pangeran 

Alexandru yang bernama Cneajna. Mereka menikah dalam 

suatu misa raya pada tahun 1427 M. 

Pada tahun 1431 M, saat  istrinya mengandung anak ked-

ua mereka, Basarab dipanggil kembali ke Honggaria. Sesampai 

di Honggaria dia diminta untuk menjadi salah satu panglima 

perang guna menghadapi serangan pasukan Turki yang telah 

berhasil merebut Serbia dan Bulgaria. Saat itu posisi Sigismund 

memang sedang sulit. Sigismund sadar bahwa pasukannya 

akan mengalami kesulitan bila menghadapi pasukan Turki 

Ottoman. Agar mendapatkan tenaga segar dia mengambil 

jalan keluar dengan mengangkat para bangsawan baru yang 

berasal dari petani untuk menjadi panglima perang. Mereka 

inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam Orde Naga. 

Oleh Sigismund, Basarab diangkat menjadi panglima 

militer di Transylvania. Pada saat yang bersamaan Basarab 

memindahkan keluarganya ke benteng Sighisoara, Transyl-

vania. Dia bersama keluarganya tinggal di sebuah vila yang 

dikelilingi tembok benteng.  Di tempat inilah istri Basarab 

melahirkan anak keduanya, Dracula. 

Vlad III atau Vlad Tepes (nama asli Dracula) dilahirkan 

pada bulan November atau Desember 1431 M, di benteng 

Sighisoara, Transylvania, Rumania. Pada saat dia lahir 

ayahnya, Basarab/Vlad II, diangkat menjadi gubernur militer 


Orde Naga:

Benteng Salib Melawan Islam

  Usia Orde Naga sebenarnya sudah sangat tua, berabad-

abad sebelum Masehi. Sejarah mencatat bahwa orde ini 

sudah ada di Mesir pada tahun 2170 SM, pada masa pemerin-

tahan Ankhfinkhonsu. Namun secara formal baru dibentuk 

pada masa dinasti ke-12 Sobeknefru (1785-1782 SM). 

  Pada awalnya Orde Naga merupakan kelompok per-

saudaraan yang jejaknya bisa ditelusuri pada suku Anun-

naki yang tinggal di lembah Mesopotamia. Ia merupakan 

suatu lembaga yang terpisah dari hirarki kekuasaan pemer-

intahan, yang biasanya bertugas mengembangkan ilmu 

pengetahuan. Mereka dipilih dari orang-orang terpandai 

di daerah itu. Orde ini menjadi eksklusif sebab  hanya 

orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi anggotanya.

  Di Mesir, awalnya Orde Naga merupakan tempat ber-

kumpul para pendeta untuk mengajarkan Taurat. Namun 

tugas ini diubah saat  Raja Raneb (2852-2813 SM) naik 

tahta. Kalau sebelumnya pendeta mempunyai tugas yang 

berhubungan dengan segala bentuk ritual agama maka 

sejak saat itu tugasnya diubah menjadi memelihara dan 

mengajarkan kebijaksanaan. Mereka inilah yang menjaga 

kelangsungan pendidikan putra mahkota agar siap menjadi 

raja.

di Transylvania oleh Raja Honggaria, Sigismund. Oleh sang 

raja Vlad II dijadikan anggota dari Orde Naga. [Tentang Orde 

Naga lihat Box: Orde Naga: Benteng Salib Melawan Islam]. 


  Bersamaan dengan melajunya waktu, tradisi Orde Naga 

di Mesir mulai melemah. Meluasnya kekuasaan kerajaan 

menyebabkan anggota orde tidak bisa lagi mengontrol tra-

disi mereka. Akibatnya, raja-raja saling berebut kekuasaan 

dengan pedang. 

  Ribuan tahun kemudian Orde Naga dibangkitkan 

kembali oleh St. Goerge. Adanya Perang Salib mengha-

ruskan umat Katolik mempunyai pasukan khusus yang 

berada di garda depan untuk menghadapi pasukan Islam. 

sebab  tugasnya begitu membahayakan maka mereka ha-

rus mendapatkan pendidikan khusus dan dengan bentuk 

organisasi yang sangat tertutup. Biasanya mereka yang ma-

suk dalam orde ini akan disumpah terlebih dahulu dengan 

al Kitab bahwa mereka akan setia. Dan, bagi anggota orde 

yang berkhianat hukuman mati yaitu  ganjarannya. 

  Pada tahun 1408 M, sesudah  kemenangan yang menen-

tukan di Bosnia terhadap pasukan Turki Ottoman, Sigis-

mund berusaha memperluas keanggotaan Orde Naga. Dia 

menyadari bahwa ancaman Turki semakin besar sebab  

mereka sudah berada di dekat Konstantinopel yang saat 

itu menjadi pusat kerajaan Katolik dunia. jika  keadaan 

ini tidak ditanggulangi maka bisa saja pasukan Turki akan 

bergerak ke arah Honggaria. Oleh sebab  itu, Sigismund 

membutuhkan benteng yang kokoh berupa pasukan elit 

yang terlatih. Dan, itu hanya bisa dilakukan oleh anggota 

Orde Naga.

  Sigismund segera menarik para bangsawan yang berada 

di wilayah kekuasaannya masuk dalam Orde Naga. Di 

antara mereka juga terdapat bangsawan-bangsawan baru, 

yang sebab  jasanya pada pasukan Salib mendapat perhatian 

khusus dari sang raja. Sejak rekrutmen baru ini anggota 

Orde Naga bertambah dua kali lipat. Dan, secara resmi 

pada tanggal 13 Desember 1408 M lambang dari Orde Naga 

diperlihatkan di depan publik.

  saat  pertempuran dalam Perang Salib semakin sengit, 

dan pasukan Salib semakin terdesak oleh pasukan Turki, 

Sigismund membuka kembali keanggotaan Orde Naga pada 

tahun 1431 M. Ia kembali mengundang prajurit-prajurit 

terbaik dari seluruh pelosok kerajaan. Salah satu di antara 

mereka yang kemudian terpilih menjadi anggota Orde Naga 

yaitu  Vlad II, ayah Dracula.

  Lambang dari Orde ini berupa seekor ular naga dengan 

sayap terlentang luas dan ekornya bergulung dilehernya. Di 

belakang terpancang Salib Merah St.George. Gambar naga 

mewakili simbol binatang buas dan salib melambangkan 

kemenangan Kristus. Catatan di sebuah universitas di Bu-

charest mengatakan bahwa dalam lambang ini  terdapat 

tulisan Quam Misericors est Deus, Pius et Justus.

  Sebagai bukti bahwa ia merupakan anggota dari Orde 

Naga, ke mana pun pergi, Vlad II selalu memakai lencana 

Orde ini . sebab  ciri khas itu selalu melekat pada diri 

Vlad II maka orang-orang Wallachia memanggilnya  dengan 

sebutan Vlad Dracul. Dalam bahasa Rumania  “Dracul” 

berarti naga, jadi Vlad Dracul berati Vlad sang Naga.

Gambar 2: Lambang Orde Naga

  Lantas dari mana nama Dracula berasal? 

  Akhiran “ulea” dalam bahasa Rumania berarti “anak 

dari”. Dari kata ini  Vlad III atau Vlad Tepes dipang-

gil dengan nama Vlad Draculea (dalam bahasa Inggris 

Draculea dilafalkan menjadi Dracula,) yang berarti anak 

dari Vlad Dracul. Dan, sejak saat itu Vlad III terkenal 

dengan nama Dracula; sebuah nama yang telah melumuri 

abad pertengahan dengan noda hitam.


Namun kebahagian sebab  kelahiran Dracula tidak 

berlangsung lama. Dua tahun sesudah  Dracula lahir pasukan 

Turki berada tidak jauh dari Konstantinopel dan sebagian 

telah bergerak ke arah Honggaria. Mereka telah berhasil me-

nyeberangi Sungai Danube dan tinggal selangkah lagi sampai 

di Wallachia. Melihat keadaan ini dan sadar bahwa Wallachia 

yaitu  bentengnya, Raja Sigismund segera memerintahkan 

Vlad II untuk maju ke medan perang, menghalau pasukan 

Turki agar tidak sampai ke Honggaria.

Gambar 3: Rumah tempat Dracula dilahirkan

Peperangan dengan Turki memang berlarut-larut, kedua 

pasukan silih berganti menyerang dan mengalahkan. Hal ini 

membuat Basarab yang ingin merebut Wallachia dari tangan 

keluarga Dan II harus menunggu cukup lama. Dia harus ber-

sabar menunggu kesempatan yang tepat guna melancarkan 

serangan yang mematikan pada Danesjsti, penguasa Wallachia 

saat itu. Kesempatan ini  baru terbuka saat  perang 

antara Turki Ottoman dan Honggaria  mereda. Kesempatan 

ini digunakan dengan sebaik-baiknya oleh Basarab hingga 

akhirnya dia bisa merebut tahta Wallachia pada akhir tahun 

1436 M dengan membunuh Danesjsti. 


Namun hanya selama tujuh tahun Basarab bisa memer-

intah secara tenang. Pada tahun 1442 M, pasukan Turki Ot-

toman benar-benar menyerang Wallachia. Sadar bahwa tak 

akan mampu menghadapi pasukan Turki Ottoman, Basarab 

lebih memilih langkah netral. Sikap ini memancing kemarahan 

Raja Sigismund. Akhirnya, Basarab diusir bersama keluarg-

anya keluar dari Wallachia, dan kedudukannya digantikan 

oleh Janos Hunyadi, salah satu panglima perang Sigismund 

di Transylvania.

Rupanya tidak begitu lama Basarab meninggalkan 

tahtanya. Pada tahun berikutnya dia berhasil merebut kem-

bali kekuasaannya dengan bantuan kerajaan Turki Ottoman. 

Sebagai jaminan kesetiaannya, Basarab mengirim dua anaknya, 

Dracula dan Randu, ke Turki. Saat itu usia Dracula kira-kira 

11 tahun. 


Riwayat Si Penyula

Masa Kecil dan Remaja Dracula

PRAKTIS sebab  ayahnya sering maju ke medan perang 

membuat Dracula hanya mengenal sosok ibu. Kehilangan 

figur ayah menyebabkan Dracula tumbuh menjadi pribadi 

yang tertutup dan inferior. Di saat anak lain bercerita tentang 

keperkasaan ayah mereka di medan perang, Dracula hanya 

bisa mendengarkan sebab  tidak bisa bercerita bagaimana 

sosok ayahnya. Sang ibu memang memberikan kasih sayang 

pada Dracula, namun itu dirasakannya tidak mencukupi 

untuk menghadapi situasi di sekitarnya yang keras. sebab  

tidak pernah mendapatkan jawaban yang memadai dari 

orang lain tentang pembunuhan yang sering terjadi akhirnya 

dia membuat kesimpulan sendiri, bahwa membunuh orang 

merupakan suatu kebiasaan.

Bagaimana dengan ibu Dracula? Hanya sebentar Dracula 

berada dalam asuhan ibunya—ibu Dracula merupakan seorang 

putri dari Maldovian. Dalam waktu yang singkat ini sang 

ibu sebagai penganut Katolik yang taat mengusahakan agar 

Dracula mendapatkan pelajaran agama yang baik. Sesuai 

dengan tradisi Katolik, Dracula menerima komune dari bi-

arawan gereja terdekat. Selain pelajaran agama sebagaimana 

putra bangsawan lainnya Dracula juga memelajari geografi, 

matematika, bahasa, filsafat dan seni klasik secara privat.

Seperti anak kecil lainnya, Dracula dan kakaknya, Mir-

cea, sering berkelahi dengan anak-anak tuan tanah lainnya. 


Perkelahian demi perkelahian ini  membuat Dracula 

tubuh menjadi bocah yang kuat. Kalau dilihat dari ukuran 

tubuhnya, Dracula bisa dikatakan bertubuh kecil tapi mem-

punyai tenaga yang luar biasa besar sebagaimana ciri khas anak 

lembah pegunungan. 

Rupanya kegembiraan masa kecil Dracula tidak berlang-

sung lama. Situasi politik memaksanya meninggalkan belaian 

sang ibu dan harus hidup sendiri di Turki sebagai jaminan dari 

ayahnya. Hanya ada adiknya, Randu, yang menjadi temannya 

di jantung kota Turki. Namun perbedaan karakter membuat 

mereka menempuh hidupnya sendiri. Maka praktis selama di 

Turki Dracula hanya hidup sendiri.

Dracula tumbuh menjadi remaja yang pembangkang. 

Tingkah lakunya tak jarang membuat pengawal kerajaan 

menjadi jengkel. Akibatnya, Dracula sering mendapatkan 

hukuman. saat  mendapat hukuman dia tidak melawan tapi 

dalam hati memendam dendam yang sangat besar; inilah yang 

kelak membuatnya sangat membenci orang-orang Turki. 

Selain terkenal dengan sikap keras kepalanya, Dracula 

kecil juga terkenal dengan kekejaman. Sebagai cara untuk men-

gubur rasa kesepiannya sebab  jauh dari orangtua dan saudara-

saudaranya, Dracula sering menangkap tikus dan   burung. 

sesudah  tertangkap binatang-binatang ini      kemudian 

ditusuk dengan tombak-tombak kecil. Dia sangat girang saat  

melihat binatang ini  menggelepar sekarat. sebab  begitu 

girangnya tak jarang dia tertawa terbahak-bahak. 

Agar tidak bertambah “liar” pengasuhnya memasukkan 

Dracula ke madrasah untuk belajar ilmu agama. Kalau adiknya 

tekun memelajari pelajaran di madrasah, Dracula justru sering 

mencuri waktu untuk melihat pelaksanaan hukuman mati 

di alun-alun. Dia begitu menikmati setiap melihat penjahat 


atau pengkhianat negara dipancung. Dia sangat senang saat  

kepala-kepala tanpa badan dipancang pada tombak. 

Selama berada di Turki, Dracula memeluk agama Islam, 

begitu pula dengan adiknya. Dia memeluk agama Islam bukan 

untuk memelajarinya agar bisa menjadi Muslim yang sejati, 

tapi semata-mata untuk tujuan politiknya. Dengan memeluk 

Islam maka Dracula tidak diperlakukan sebagai tawanan lagi 

sehingga dipindahkan dari Callipoli ke kota besar Andri-

anople, dengan diberikan kebebasan untuk menyusuri kota 

Turki. Dengan kebebasan ini  dia bisa menjelajahi jalanan, 

menghirup harumnya rempah-rempah dan  keluar masuk 

barak-barak militer.

Kebebasan ini  dimanfaatkan Dracula untuk belajar 

kemiliteran pada prajurit-prajurit Turki yang terkenal andal 

dalam berperang. Tidak begitu lama Dracula bisa menguasai 

seni berperang Turki bahkan melebihi prajurit tempatnya 

belajar. Dia tumbuh menjadi remaja yang piawai menunggang 

kuda, memainkan segala jenis senjata dan strategi perang; di 

antara kelebihan ini  ada satu kelebihan yang sulit di-

carikan tandinganya, yaitu naluri membunuh. Memang bisa 

dikatakan bahwa Dracula telah tumbuh menjadi pembunuh 

berdarah dingin sejak berusia remaja.

Kemajuan-kemajuan yang diperoleh Dracula ternyata 

telah menarik perhatian Sultan Muhammad II (Di Eropa 

dikenal dengan nama Sultan Mehmed II). Sang Sultan ke-

mudian menikahkan Dracula dengan salah satu kerabatnya. 

Dengan pernikahan ini sang Sultan berharap bahwa kelak 

Dracula bisa menjadi panglima perang Turki Ottoman.

Langkah yang diambil Dracula memang harus diakui 

cukup cerdas. Sebagai tawanan dia mengunakan kesempatan 

ini  utuk memelajari kelemahan dan kekuatan musuhnya. 


Dia serap sisi positif ketrampilan militer Turki Ottoman. Se-

mentara sisi negatifnya dia simpan sebagai pukulan terakhir 

untuk menyerang balik musuhnya. 

Sikap licik Dracula bertolak belakang dengan sikap 

Randu, adiknya. Mereka ibarat langit dan bumi, minyak 

dan air. Randu tumbuh menjadi pemeluk Islam yang taat. 

Dia memelajari segala ilmu pengetahuan yang ada di Turki 

sembari mengembangkan keterampilan militer. Kalau ka-

kaknya terkenal sebagai pribadi yang kejam, Randu terkenal 

sebab  kebijaksanaannya. Inilah yang membuat Randu banyak 

mendapatkan simpati dari pembesar-pembesar Turki Ottman. 

Melihat kenyataan ini kebencian Dracula pada adiknya dan 

orang Turki semakin menjadi-jadi. 

Semakin dewasa kegemaran Dracula menonton hukuman 

mati semakin menjadi. Bisa dikatakan dia telah kecanduan. 

Jerit korban yang sekarat, darah yang muncrat saat  pedang 

ditebaskan seakan-akan suatu hiburan yang tidak ada tand-

ingannya. Bila sehari saja tidak ada hukuman mati maka dia 

segera menangkap burung atau tikus dan kemudian menyik-

sanya sampai mati.

Bibit kekejaman rupanya dia dapatkan di Wallachia. Di 

kota ini  pembantaian sudah menjadi tontonan sehari-

hari. Seorang raja yang semalam masih berkuasa pagi harinya 

kepalanya sudah diarak keliling kota oleh para pemberon-

tak. Seolah udara kota ini  selalu anyir oleh bau darah. 

Dan, Dracula yang masih kecil—baik saat  bermain-main 

atau pergi ke gereja—melihat kekejaman demi kekejaman 

itu. Bibit kekejaman itu kemudian dia bawa ke Turki, dan 

bertambah subur sebab  rasa dendam dalam dirinya yang 

harus terbuang serta berpisah dengan masa kecil, keluarga 

dan teman-temannya. 


Selain terkenal dengan kekejamannya, Dracula juga me-

nyukai perempuan. Bisa dikatakan nafsunya terhadap perem-

puan sama besarnya dengan nafsu membunuhnya. saat  

jubah malam telah menyelimuti kota, dia menyelinap pergi 

ke tempat pelacuran-pelacuran ilegal yang berada dipinggir 

kota. Sepanjang malam dia berada di tempat ini  sehingga 

paginya pulang dengan setengah merangkak sebab  kelelahan. 

Begitulah masa kecil dan remaja Dracula. Dia telah mena-

namkan segala bentuk kekejaman dalam dirinya. Tinggal 

menunggu waktu saja kapan kekejaman itu akan memakan 

korban dari orang-orang yang tak berdosa. 

Kembali ke Wallachia

Pada tahun 1444 M, Kerajaan Hongaria maju dalam 

pertempuran melawan Kerajaan Turki Ottoman. Raja Hong-

garia menuntut agar Basarab ikut dalam peperangan sebagai 

pasukan Salib. Sang raja mengingatkan bahwa sebagai Orde 

Naga, Basarab tidak bisa menolak permintaan ini  sebab  

sudah terikat sumpah setia untuk membela pasukan Salib. 

Agar tidak menimbulkan kemarahan Raja Honggaria dan 

Sultan Turki, Basarab mengirim anaknya, Mircea. Dalam 

peperangan ini pasukan Salib mengalami kekalahan yang dah-

syat di Varna. Melihat kenyataan ini, baik Basarab maupun 

Mircea menyalahkan Janos Hunyadi yang bertindak sebagai 

panglima perang.

Pasca kekalahan di Varna pertentang antara Basarab dan 

Janos Hunyadi semakin meruncing. Puncaknya terjadi pada 

tahun 1447 M saat  Basarab dan Mircea dibunuh. Mereka 

telah dibunuh oleh persekongkolan yang diorganisir Janos Hu-


nyadi. Anggota persekongkolan meliputi para tuan tanah dan 

pedagang yang tidak puas dengan pemerintahan Basarab. Ten-

tang bagaimana terbunuhnya Mircea ada perbedaan pendapat. 

Ada yang mengatakan bahwa Mircea sebelum mati disiksa 

dan dibakar terlebih dahulu. Ada pula yang mengatakan dia 

dikubur hidup-hidup.

Gambar 4: Sebuah plakat yang menyebut nama ayah Dracula, 

Vlad Dracul

saat  Basarab dan Mircea mati, Dracula dan Randu ma-

sih berada di Turki. Agar kekuasaan Wallachia tidak kosong 

maka Janos Hunyadi menempatkan salah satu anggota Dan 

II sebagai raja dengan gelar Vladislav II. 

Melihat Wallachia telah jatuh dalam cengkraman Kerajaan 

Honggaria, Kerajaan Turki Ottoman membebaskan Dracula 

pada tahun 1448 M. Dia bersama pasukan yang mengikutinya 

ditugaskan untuk merebut Wallachia. Pada saat itu umur 

Dracula kira-kira sudah 17 tahun.

Dengan bantuan Turki, Dracula berhasil merebut kekua-

saan Wallachia. Namun dia menduduki tahta Wallachia tidak 


lama sebab  dua bulan kemudian Janos Hunyadi berhasil 

mengusirnya dan menempatkan kembali Vladislav II. Maka 

Dracula harus hidup dalam pengasingan di Moldavia (kota 

tempat kelahiran ibunya). 

Selama tiga tahun Dracula tinggal di Moldavia. Pada tahun 

ketiga, Pangeran Bigdan Moldavia terbunuh. Hal ini membuat 

Dracula harus melarikan diri sebab  pelindungnya telah tiada. 

Sementara itu, di Wallachia, Vladislav II berubah mendukung 

Kerajaan Turki Ottoman. Keadaan ini tentu membuat Janos 

Hunyadi naik pitam. Kesempatan inilah yang digunakan 

Dracula untuk mendekati Janos Hunyadi. 

Sebagai orang yang pernah tinggal di Turki tentu Dracula 

mengetahui kelemahan dan kelebihan kerajaan ini . Ini-

lah yang membuat Janos Hunyadi bersedia menerima anak 

dari musuhnya sebagai penasihatnya. Semakin hari dua orang 

ini  semakin dekat sebab  memiliki pikiran yang sama-

sama machiavelis—pemikiran yang menghalalkan segala cara 

untuk memperoleh kekuasaan. 

Janos Hunyad